Sabtu, 25 Oktober 2008

Wanita Pengusaha Yang Baik Budi

Para wanita Quraisy sedang merayakan Hari Perempuan yang berlangsung setahun sekali di seputar Ka'bah. Tiba-tiba seorang laki-laki Yahudi menghampiri mereka tanpa permisi. Yahudi itu segera berseru,"Hai kaum hawa bangsa Arab, seorang Nabi terakhir akan muncul di negeri ini. Siapakah di antara kalian yang ingin menjadi permaisurinya?"
Perempuan-perempuan itu naik pitam. Tanpa berpikir panjang, mereka mencaci-maki Yahudi tersebut. Bahkan ada yang melemparinya dengan batu-batu kecil.
Seorang janda berusia sekitar empat puluh tahun, bernama Khadijah binti Khuwailid sama sekali tidak terbawa-bawa untuk ikut menista Yahudi itu. Ia sudah menjanda dua kali, jadi tidak berpikir akan ada seorang Nabi yang bakal mengambilnya sebagai istri.
Tapi ia teringat akan mimpinya semalam. Matahari turun di kota Mekah dan jatuh ke dalam rumahnya. Sianrnya memancar dari rumah Khadijah dan menerangi sekitarnya. Aneh.
Dalam pada itu, seorang bangsawan Quraisy bernama Abu Thalib sedang berunung dengan saudara perempuannya, Atikah. Mereka sedang memperbincangkan kemenaknnya bernama Muhammad yang terkenal dengan julukan Al Amien, taua yang dapat dipercaya.
"Muhammad sudah berumur dua puluh lima tahun. Apakah tidak sebaiknya kita carikan jodoh untuknya?"usul Abi Thalib.
Atikah menyangga,"Aku tidak setuju. Muhammad belum punya apa-apa. Sebaiknya Muhammad kita suruh berdagang saja, seperti umumnya pria Quraisy."
"Dagang apa?Dan modalnya?"
Atikah menjawab,"Kalau dia mau, kita suruh saja membawa dagangan Khadijah. Banyak pula orang lain yang menjualkan barang perniagaan janda kaya itu. Terserah Khadijah sajalah, mau disuruh dagang apa Muhammad, kemenakan yang berbakti itu."
Abu Thalib menyetujui saran saudara perempuannya tersebut. Abu Thalib lalu memanggil Muhammad. "Anakku, sejak hari ini ambillah untaku. Pergilah ke rumah Khadijah untuk mengambil barang-barang-nya, kau jualkan ke Syam atau kemana saja. Leuntungannya nanti serahkan sebagian kepadaku untuk kutabung bagimu.
Muhammad keberatan. Ia tidak mau menawarkan diri kepada seorang wanita, kecuali apabila Khadijah memerlukan jasanya.
"Paman,"ucap Muhammad. "Saya tidak akan mendatangi rumah Khadijah kalau bukan dia sendiri yang memanggil saya."
Abu Thalib tidak tersinggung atas jawaban seperti itu. Demikian pula Atikah. Sebab mereka tahu, Muhammad memiliki kepribadian yang tinggi dan harga diri yang besar. Ia menghormati wanita, tapi ia tidak mau menggantungkan nasibnya kepada wanita. Bukankah laki-laki ditakdirkan untuk melindungi dan menyantuni wanita? Dan tidak sebaliknya.
Oleh sebab itu, secara diam-diam Atikah mendatangi Khadijah dan merundingkan masalah itu. Dengan suka hati Khadijah bersedia menolong. Lantaran ia sangat menyukai laki-laki yang mempunyai wibawa dan harga diri. Ia setuju terhadap permintaan Atikah agar dialah yang memanggil Muhammad, dan bukan Muhammad yang memohon kepadanya.
Sudah tentu Muhammad amat bergembira mendapat panggilan dari seorang wanita perniaga yang kaya raya. dan banyak menolong rakyat kecil yang menderita. Ia lebih gembira lagi karena Khadijah mempercayakan sejumlah barang untuk diperdagangkan ke negeri Syam.
Demikianlah, dengan dilayani oleh salah seorang bujang Khadijah yang bernama Maisarah, Muhammad membawa barang dagangan itu mengikuti kafilah niaga yang akan bertolak ke negeri Syam.
Berbeda dari pedagang lainnya, Muhammad dalam meladeni pembeli sangat ramah dan jujur. Ia tidak mau mengambil keuntungan yang berlebihan. Tiap kali pembeli menanyakan harga suatu barang, Muhammad menjelaskan ,"Dari yang punya harga sekian. Saya akan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sedikit dari harga yang ditetapkan pemilik modal.
Cara berdagang seperti itu angat menarik minat para pembeli sehingga barang-barang jualannya laku keras. dan cepat habis.
Pada hari kepulangannya ke Mekah, Muhammad disambut gembira oleh Khadijah. Apalagi ia pun dapat mencarikan sejumlah barang yang dipesan oleh Khadijah di negeri Syam.
Ketika ditanya oleh Khadijah, Maisarah sejujurnya menceritakan." Belum pernah saya menemukan seorang pemuda yang lebih baik daripada Muhammad, di seluruh jazirah Arab dan di negeri Ajam sekalipun. Muhammad sangat tajam dan lembut. Sikapnya begitu ikhlas, tawakal, dan tak kenal menyerah. Pokoknya, yang semnacam Muhammad tidak ada duanya."
Itulah yang memikat Khadijah sampai akhirnya ia bersedia menjadi istrinya dalam usia empat puluh tahun, berselisih lima belas tahun lebih tua dibandingkan suaminya. Muhammad.

Jumat, 24 Oktober 2008

Sa'id bin 'Amir : Pemimpin Teladan

Sa'id bin 'Amir adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw yang utama. Dia sangat bertakwa dan tidak menonjolkan diri. Sa'id memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Sejak itu, dia selalu menyertai Rasulullah saw dalam setiap perjuangan dan jihad.
Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Sa'id dipilih sebagai pemimpin kota Homs. Pada awalnya, Sa'id menolak jabatan tersebut, tetapi khalifah Umar tetap memaksa dan meyakinkannya karena Umar yakin sekali dengan pilihannya. Karena itu berangkatlah Sa'id ditemani istrinya.
Selama memegang jabatan, Sa'id memimpin dengan adil dan selalu memberi teladan yang baik kepada rakyatnya. Karena itu, warga Homs menaati dan menghormati Sa'id. Namun, bagaimanapun cintanya warga Homs menaati dan menghormati Sa'id, ada beberapa warga yang mengeluhkan kepemimpinannya. Mari kita ikuti kisahnya.
Ketika Khalifah Umar berkunjung ke Homs, dia bertanya kepada penduduk yang sedang berkumpul,"Bagaimana pendapat kalian tentang Sa'id?"
Para penduduk berunding, lalu majulah salah seorang yang bertindak sebagai juru bicara mereka, " Ada empat hal yang hendak kami kemukakan:
1. dia baru keluar menemui kami setelah matahari tinggi
2. dia tidak melayani seorang pun di malam hari
3. setiap bulan, ada dua hari yang dia tidak keluar menemui kami, dan
4. ada satu hal lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya, tapi mengganggu kami. Sewaktu-waktu dia jatuh pingsan."
Umar tertunduk sebentar merenungkan ucapan warga Homs. Lalu dia berdoa, "Ya Allah, hamba tahu bahwa Sa'id adalah hamba-Mu yang baik, maka hamba harap firasat terhadap dirinya tidak meleset." Selanjutnya, Umar menemui Sa'id untuk menanyakan hal tersebut.
"Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tidak keluar sebelum matahari tinggi, demi Allah, sebetulnya saya tak ingin menyebutkannya. Keluarga kami tak mempunyai pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram. Lalu saya membuat roti. Kemudian saya berwudhu untuk sholat Dhuha. Setelah itu, barulah saya keluar menemui mereka,"kata Sa'id.
Khalifah Umar mengangguk-anggukkan kepala. Wajahnya mulai berseri-seri mendengar jawaban Sa'id. "Lalu, bagaimana dengan lainnya?"lanjut Khalifah Umar.
"Adapun tuduhan mereka bahwa saya tidak mau menemui warga di waktu malam, demi Allah, saya benci menyebutkan sebabnya. Saya menyediakan siang hari bagi mereka dan menyediakan malam hari bagi Allah swt. Mengenai; ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan saya tidak mau menemui mereka, sebabnya sama seperti yang saya katakan tadi. Saya tidak mempunyai pelayan untuk mencucikan pakaian sedangkan pakaian saya tidak banyak. Jadi terpaksa saya menucinya dan menunggu hingga kering. Saya baru dapat keluar di waktu petang. Kemudian tentang keluhan mereka bahwa sewaktu-waktu saya jatuh pingsan sebabnya adalah ketika di Makkah dulu, saya menyaksikan tersungkurnya Khubaib Al-Anshari. Dia disiksa oleh orang Quarisy dan mereka membawanya dengan tandu sambil bertanya,' Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sementara kamu berada dalam keadaan sehat walafiat?'Jawab Khubaib,'Demi Allah, aku tak ingin berada di lingkungan yang anak istriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana walaupun hanya tusukan duri,'Setiap terkenang peristiwa itu, tubuh saya gemetar karena takut azab Allah. Ketika itu, saya masih dalam keadaan musyrik. Saya teringat bagaimana saya berpangku tangan tak melakukan pertolongan kepada Khubaib,"ucap Sa'id mengakhiri jawabnnya dengan air mata berlinang.
Khalifah Umar tak kuasa menahan haru,"Alhamdulillah karena dengan taufik-Nya, firasatku tidak meleset."
Sa'id bin 'Amir sungguh seorang yang bertakwa.